Senin, 23 Agustus 2010

PSIKOLOGI REMAJA (1)


Oleh: Joko Sutopo, S.Pd

Bila sekolah sudah sepakat untuk menerapkan kurikulum yang komprehensif di semua jenjang, pendekatan ini bekerja melalui sepuluh unsur yang mempermudah remaja melalui masa pubertasnya dan mendorong siswa mengembangkan rasa tanggung jawab diri dan kiat dalam manata kehidupannya.

1. Definisi jati diri dan rasa percaya diri.

Mendifinikan dan menguatkan jati diri merupakan tugas utma remaja dan merupakan masalah yang rumit yang dilakukan melalui komunikasi yang efektif, manajemen stres dan membuat keputusan. Melalui menulis, kebersamaan kelompok, dan latihan-latihan yang terfokus ,para siswa didorong untuk menyatakan dan mengekspresikan nilai-nilai, tujuan dan kebutuhan mereka. Kebutuhan didefinisikan secara luas, termasuk di dalamnya fisik, emosi, sosial, dan kerohanian, dan kebutuhan intelektual. Para siswa mempelajari teknik-teknik merenungkan kesadaran dan penerimaan dalam kebutuhan manusia.

2. Keterampilan berkomunikasi

Pada siswa diberikan latihan keterampilan mendengar dan meningkatkan kemampuan siswa untuk mengekspresikan diri mereka lebih efektif, lebih lengkap dan lebih murni. Kelompok-kelompok kecil digunakan, tetapi penekanan adalah pada setiap orang untuk berbicara dalam kelompoknya. Ada dua hal yang perlu diperhatikan guru saat ini: kurangnya daya serap dalam mendengar dan kontrol pada desakan hati.

Berikan setiap siswa kesempatan untuk berbicara dengan jaminan tidak ada interupsi atau reaksi langsung. Pembicara yakin ia dapat tenang berbicara dan pendengar berdisiplin untuk mendengar.

Mendengar secara mendalam

Mendengar secara mendalam pada pembicaraan orang lain berarti mendengarkan orang lain dengan perhatian penuh, tanpa pendapat dan reaksi yang cepat. Ini berarti mendengar dengan perasaan dan tujuan, dan kata-kata yang diucapkan pembicara. Untuk bisa mencapai hal ini dibutuhkan disiplin yang kuat dan melengkapi siswa dengan keterampilan yang penting yang dapat menolong mereka belajar maupun membina hubungan. Mendengar secara mendalam menghilangkan kebiasaan mem bangkang,kecenderungan mengiterupsi untuk membela diri, menyatakan pendapat, dan debat kusir, sebelum seseorang mendengar dengan baik seluruh penbicaraan pembicara. Bila pendengar akhirnya berbicara, ia dapat memberikan tanggapan, bukan reaksi, dengan cara komunikasi yang membangun dan komunikasi yang berguna untuk dirinya.

Mendengar dengan mendalam pada pembicaraan dirinya sendiri merupakan keterampilan lain. Siswa belajar mendengarkan tujuan, imajinasi dan tubuh mereka, juga pemikiran rational mereka.

Disiplin untuk berbicara secara singkat dan dari lubuk hati: Siswa belajar kekuatan untuk berbicara secara jelas dan langsung pada sasaran. Secara rutin anak diberi kesempatan untuk mengekspresikan perasaan dan perhatiannya, sehingga secara bertahap mengembangkan atau menguatkan kemampuan mereka untuk berbicara dengan mengekspresikan perasaan.

Juga kepada siswa didorong untuk meningkatkan komunikasi dengan cara memberikan respek kepada berbagai orang yang tidak sama latar belakangya. Dalam hal ini ditimbulkan pada anak rasa hubungan antarmanusia. Orang-orang Afrika, Hawai, Yunani, dan penduduk asli Amerika,membiasakan diri duduk berdekatan di tanah dengan bentuk lingkaran yang di tengahnya dinyalakan api unggun, untuk mengekspresikan di antara mereka sendiri bahwa mereka menghormati kearifan setiap individu dan mengusahakan kekuatan dalam kebersamaan mereka.

Teknik-teknik seperti psikodrama dan role play mengajarkan bagaimana menyatakan sesuatu dengan tegas. Sedangkan definisi jati diri membantu siswa menemukan apa yang mereka ingikan dan butuhkan, keterampilan bertindak tegas membantu mereka memuaskan kebutuhan mereka, dengan meningkatkan rasa percaya diri dan manajemen stres.

3. Manajemen stres

Manajemen stres sangat berhubungan dengan rasa tanggung jawab diri _ untuk mempercayai bahwa seseorang telah mempunyai kendali terhadap kehidupannya dan memiliki perangkat untuk melatih kendali ini. Remaja yang gagal mengatur stres berakibat sakit, baik fisik maupun emosi, dan pada berbagai perilaku menghancurkan diri sendiri termasuk penyalahgunaan obat-obatan, hubungan seksual pranikah, isolasi sosial, dan gangguan/hambatan kegiatan bersekolah.

Manajemen stres meliputi pembelajaran mengenai bagaimana mengatur kehidupan seseorang agar sesedikit mungkin mendapatkan stres dan meringankan dampak negatif dari stres yang tidak dapat dibuang.

Berikut ini tertera beberapa pertanyaan yang mempermudah rangkaian /urutan manajemen stres.

  1. Siapakah saya?
  2. Apa kebutuhan, nilai nilai tujuan saya?
  3. Buat batas waktu, energi, dan tempat, untuk menentukan prioritas mana yang dida hulukan.
  4. Dapatkah saya menerima kebutuhan, keterbatasan dan prioritas saya?
  5. Bagaimana saya mengambil keputusan terhadap prioritas saya dengan maksud mengurangi tekanan dalam kehidupan saya?
  6. Bagaimana saya membaca tandatanda stres, terlalu besar bebannya dan salah sasaran dalam kehidupan saya?
  7. Bagaimana cara saya mengatasi sikap saya yang selalu mengelak dan kadang-kadang tidak ingin mengubah kehidupan saya dalam hal pertumbuhan badan saya dan penyembuhan karena sakit?
  8. Teknik-teknik apa yang dapat mengurangi tekanan dan perasaan bingung yang senantiasa mengiringi diri saya ketika saya mengalami stres?

4. Pendidikan emosional dan kesehatan jiwa - tubuh

Untuk membantu siswa membiasakan diri kepada gerakan tubuh yang lebih halus dan pemikiran yang cerdik, dan untuk mengurangi tekanan, rasa bingung dan terisolasi, mereka diajari gerakan fisik santai, keterampilan-keterampilan fokus, dan latihan-latihan yang mengikutsertakan pemikiran imajinasi dan panca indra. Teknik-teknik ini mengfasilitaskan pengurangan stres dan membantu mengembangkan keterpaduan diri, yang membantu siswa mengontrol tubuh, emosi dan pikiran mereka. Juga dapat menurunkan stres dan membantu keterpaduan pribadi, yang mengantar mereka menjadi lebih mempunyai pengetahuan diri dan harga diri. Belajar mengakses dan menguatkan imajinasi dan panca indra akan mengembangkan tidak saja manajemen, tetapi juga kreativitas. Kreativitas yang meningkat dapat membantu siswa mengendalikan kehidupan pribadi mereka dan menjadikan mereka lebih produktif dalam bekerja. Memusatkan dan mengfokuskan keterampilan mengajar siswa ke suatu tingkat disiplin dan konsentrasi yang menyediakan bukan saja ketentraman dan ketenangan, tetapi juga penampilan yang baik dalam atletik, akademik, ekspresi arstistik. Mengembangkan kapasitas dengan tepat terfokus pada pikiran dan tubuh sangatlah mempengaruhi sukses akademis dan stamina, sama seperti memberikan kesempatan siswa-siswa kita dengan suatu kesempatan agar lebih puas dan manusiawi dalam kehidupan pribadi.

5. Pendidikan kesehatan pencegahan

Sebagai tambahan dari pendekatan pencegahan tidak langsung yang pernah disebutkan di atas, yang dikenali penyebabnya adalah perilaku bersifat merusak diri sendiri (harga diri rendah, stres dan keterampilan yang rendah dalam menentukan pendapat), untuk itu perlu ditunjang dengan informasi mengenai penyalahgunaan obat/zat dan seksualitas. Penjelasan disediakan secara terpadu oleh guru, pakar dari luar, dan presentasi para siswa. Para siswa melakukan penelitian dalam suatu kelompok kerja bersama dan presentasi dilakukan oleh para siswa, baik teman-teman sekelas, maupun kakak kelas mereka yang diundang sebagai pembicara tamu. Bermain peran, metode pemecahan masalah kelompok, dan OSIS, biasanya digunakan untuk membantu siswa mempraktekkan dan memroses apa yang mereka pelajari di kelas.

Bermain dan bergembira

Penting sekali menilai kualitas terhadap pengembangan dan pemeliharan kesehatan, ketabahan dan kreativitas individu dan masyarakat dan pada proses pembelajaran yang efektif. Bermain banyak dikikis dari anak-anak dan remaja oleh tekanan-tekanan dan bahaya-bahaya yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Ber main harus dibiasakan kembali melalui permainan-permainan, misalnya permainan teater, permainan _permainan baru, dan yang lebih umum melalui menciptakan situasi yang mengudang spontanitas, tertawa dan bahkan kebodohan atau menggemparkan.

Siswa belajar membedakan tawa dan bermain, daripada tidak merespeki atau tindak kekerasan. Mereka belajar bagaimana mengimbangi dan memadukan keseriusan dengan bermain, dari pada menempatkan diri mereka sebagai penentang. Dan mereka akan menghargai bahwa pelajaran-pelajaran yang serius dapat dipelajari dengan cara permainan yang menyenangkan.

Pengecualian pada saat-saat mencapai kemenangan di lapangan, kebiasaan yang terjadi di sekolah cenderung diiringi dengan keluhan, kritikan dan penderitaan, daripada dengan merayakannya dan bergembira. Para siswa tampaknya merasa pada posisi terancam _ dikecam atau perasaaan enggan _ dalam membagi sukses dan kekuatan yang ada. Demikian pula persahabatan diasosiasikan dengan membagi guru, kami mendapati cara-cara untuk mengingatkan mereka secara teratur; kami ada disini untuk membagi hal-hal yang tinggi dan rendah dan membangun kesempatan _kesempatan bagi siswa untuk menyatakan dan mengalami kegembiraan.

7. Merayakan perbedaan manusia

Saya percaya sumbangan terbesar program kita adalah dalam membantu mengembangkan setiap siswa pada rasa aman , toleransi, respek dan cinta pada keberbedaan pengalaman dan ekspresi manusia. Para siswa datang untuk memahami bahaya pengelompokan , meniru dan berprasangka. Mereka belajar cara-cara pendekatan _pendekatan (dan sekaligus pengalaman) menghadirkan keramahan , sekaligus merayakan perbedaan-perbe-daan. Manusia tampaknya tertantang pada keberbedaan dan perubahan. Sebelum mereka dapat menunjukkan respek, secara benar, mereka harus merasakan rasa aman karena mengetahui bahwa mereka telah diterima dan dapat memelihara keter-paduan mereka ketika me-reka terbuka untuk per- ubahan dan keberbedaan. Program-program haruslah dapat membantu rasa diri diterima,dan rasa harga diri yang merupakan prasyarat untuk menerima orang lain. Guru mengajarkan para siswa bagaimana men-ciptakan suasana dalam di mana orang merasa aman untuk mengekspresikan diri mereka yang unik. Dalam suasana di mana orang berbicara dari lubuk hati yang terdalam (misalnya mengekspresikan mereka secara spontan ketulusan, keterpaduan, dirinya di-terima), siswa merasakan pengalaman dirinya diterima, mendapatkan respek, dan kadang-kadang dicintai. Ini merupakan akar kapasitas dan kebutuhan keterbukaan dan toleransi dalam hidup bermasyarakat, penuh ekspresi diri dan kedamaian.

8. Menyediakan dan memberlakukan model pembelajaran yang berbeda.

Guru mendemontrasikan penggunaan teknik-teknik mengajar yang fleksibel dan kreatif agar pembelajaran dapat diterima oleh siswa-siswa yang berbeda dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk meng-gunakan yang sesuai dengan mereka sendiri. Guru meng-gunakan cara-cara yang bervariasi , menulis, drama, bersantai, gerakan-gerakan dan perawatan tubuh, ber-cerita, bermain, video, ceramah, diskusi terbuka, dan kebersamaan dalam menyampaikan pendapat. Terdapat juga model meng-ajar dengan cara pengertian yang mendalam dan apre-siasi, dan usaha untuk meng-ajarkan para siswa bagaimana dan bilamana mengaksesnya. Di luar teknik, suasana dalam membentuk fasilitas yang direspeki dan menghormati perbedaan antarindividu dan mendukung hal_hal unik yang dibawa setiap anak dalam kelompoknya. Siswa diperbolehkan belajar mema-hami kekuatan dan kele-mahan mereka, dan mereka boleh mempelajari untuk menerima kekuatan dan kelemahan mereka baik di dalam diri mereka sendiri maupun orang lain.

9.Tanggung jawab pribadi dan sosial.

Para siswa diajarkan ber-tanggung jawab bukan sebagai beban atau kewa-jiban, namun sebagai rasa adanya pertalian dan we-wenang. Para siswa melihat kepedulian seseorang yang membuat orang lain terlepas dari penderitaannya dan mengalami bahwa selalu ada kesempatan untuk memilih dan mengubah. Mereka juga belajar cara bertanggung jawab terhadap kehidupan mereka sendiri dan bekerja sama dengan kelompok/ masyarakat mereka. Ini men-cakup pengertian sosial dan moral, kepemimpinan dan pemecahan masalah secara bersama dan metode-meto-de yang meninggikan krea-tivitas. Sehubungan dengan cara mengajar ada model baru untuk kepemimpinan: guru sebagai pembimbing yang memberikan wewenang kepada siswa untuk me-nyumbangkan secara bebas cara penentuan pendapat bersama, termasuk di da-lamnya tujuan dari pelajaran itu sendiri.

10.Pengembangan rohani

Banyak remaja masa kini menderita rasa kosong dalam dirinya, rasa tak berarti yang tumbuh karena tradisi sosial dan keagamaan tidak lagi menyediakan rasa penger-tian, kesinambungan, dan partisipasi pada suatu kese-luruhan yang lebih luas. Pada saat para remaja berkembang di bidang sosial, emosional, intelektual dan fisik, ternyata kerohaniannya berkembang juga. Kekosongan dari bim-bingan kerohanian dan kesempatan dalam kehi-dupan dari begitu banyak remaja saat ini merupakan satu atau lebih faktor yang mengarah ke perilaku bere-siko tingi, yang dapat meru-pakan suatu pencarian hu- bungan, sukar dipahami, mengerti dan membaharui, demikian pula pelarian dari kegetiran karena tidak mem-punyai sumber pemenuhan rohani yang sejati.

Dengan terobosan, guru mengembangkan suatu kerangka kerja dalam peme-liharaan pengembangan ro-hani yang merespeki dan menghormati iman sese-orang atau keyakinannya pada falsafah tertentu, juga menyediakan pengalaman-pengalaman di berbagai bi-dang usaha. Kurikulum untuk terobosan ini didisain agar tercipta forum bagi siswa untuk menyelidiki ke-butuhan-kebutuhan sebagai berikut:

  • Kerinduan untuk berhubungan erat
  • Penemuan arti dan tujuan
  • Keinginan untuk berdiam diri
  • Dorongan untuk menjadi lebih baik
  • Haus akan kegembiraan dan kesenangan
  • Gerakan yang kreatif
  • Kebutuhan mengenal tata cara dalam menghadapi perbedaan antrasesama manusia.

Penutup

Guru-guru dan para sisswa dalam terobosan sama-sama menemukan sua-tu tempat bagi "diri mereka sendiri" - untuk mem-bawa lagi diri mereka dalam masyarakat sekolah. Kese-hatan individu dan suasana sekolah dapat meningkat karena peningkatan rasa berkomunitas.

Suatu generasi pemuda sangat merindukan orang dewasa yang mau membe-rikan perhatian terhadap hati dan jiwa, juga sukses dalam belajar maupun berolahraga. Walaupun tidak selalu mu-dah untuk mengatur pel-ajaran semacam itu di sekolah, namun dianjurkan untuk melakukannya demi-kian. Saya percaya kesehatan untuk generasi mendatang, juga kesehatan untuk demo-krasi tergantung pada kesepakatan baru kepada para pemuda, ketika mereka berusaha untuk mengikut kita _ orang dewasa _ kesepakatan untuk mendengar tentang per-jalanan ke keutuhan pribadi dan masyarakat yang peduli. (TR).

0 komentar:

Poskan Komentar